MAKNA AL-MASIH
Abu Abdillah
Al-Qurthubi menyebutkan dua puluh tiga variasi bentuk kata dari lafal
Al-Masih ini. (At-Tadzkiroh: 679). Dan pengarang Al-Qamus memecahnya
menjadi lima puluh bentuk kata. [Vide: Tartibul Qamus 4: 239. Penyusun
kamus ini mengatakan bahwa dia menguraikan variasi bentuk kata ini dalam
kitabnya Syarhu Masyariqil anwar dan lainnya].
Lafal Al-masih
dapat berarti Ash-shiddiq (yang benar /suka kepada kebenaran) dan
adhalil Al-Kadzdzab (yang sesat lagi pembohong). Maka Al-Masih Isa
'alaihissalam adalah Ash-Shiddiq, sedang Al-Masih Ad-Dajjal Adalah
Adh-dhalil Al-Kadzdzab.
Allah menciptakan dua Al-Masih yang
kontradiktif. Isa 'alaihissalam adalah Al-Masih pembawa petunjuk. yang
dapat menyembuhkan tuna netra dan penyakit sopak (penyakit kulit yang
tidak memiliki zat warna). dan dapat menghidupkan orang mati dengan izin
Allah. Sedang Dajjal adalah Al-Masih kesesatan yang menyebarkan fitnah
kepada manusia dengan kejadian-kejadian luar biasanya seperti
menurunkan hujan. menghidupkan bumi dengan tumbuh-tumbuhan dan
sebagainya. Dajjal disebut masih karena salah satu matanya terhapus
(buta), atau karena ia menghapus bumi selama empat puluh hari.
[Periksa: An-Nihayah Fi Gharibil Hadits 4: 326- 327; dan Li-sanul Arab
3: 594-595]
Dan pendapat yang pertama (bahwa Dajjal buta sebelah
matanya) adalah pendapat yang lebih kuat berdasarkan hadits
"Bahwasanya Dajjal terhapus (buta) sebelah matanya. " [Shahih Muslim,
Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa 'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18: 61]
MAKNA AD-DAJJAL
Adapun
kata Ad-Dajjal ini diambil dari perkataan mereka: "Dajala Al-ba'iiro
idzaa tholaahu bi Al-qothiron waghoththoo bihi" (Seseorang itu
mendajjal unta bila melumurinya dangan ter/aspal dan menutupnya
dengannya). " [Periksa: Lisanul Arab11: 236, dan Tartibul Qamus 2: 152]
Dan
asal makna "Dajjal" ialah "Al-Kholath" (mencampur, mengacaukan,
membingungkan). Dikatakan bahwa "seseorang itu berbuat Dajjal bila ia
menyamarkan dan memanipulasi." dan "Ad-Dajjal" ialah manipulator dan
pembohong yang luar biasa. Lafal ini termasuk bentuk mubalaghah
(menyangatkan/intensitas) mengikuti wazan "fa'aal", artinya banyak
menelurkan kebohongan dan kepalsuan.[Periksa: An-Nihayah Fi Gharibil
Hadits 2: 102].
Dan bentuk jamaknya ialah "dajjaaluun", sedang
Imam Malik menjamakkannya dengan bentuk "dajaajilah" sebagai jamak
taksir (Lisanul Arab 11: 236). Al-Qurthubi mengatakan bahwa lafal
"dajjal" menurut lughat dapat diucapkan dalam sepuluh bentuk.
[At-Tadzkirak: 658].
Lafal Dajjal sudah menjadi isim alam (kata
nama) bagi Al-Masih sang pendusta dan buta sebelah matanya, sehingga
kalau disebutkan kata "Dajjal" maka yang segera ditangkap pengertiannya
ialah si pembohong tersebut.
Dan "Dajjal" itu dinamakan
"Dajjal" karena ia menutup kebenaran dengan kebatilan atau karena ia
menutupi kekafirannya terhadap orang lain dengan kebohongan.kepalsuan.
dan penipuannya atas mereka.
Dan ada yang mengatakan karena ia
menutupi bumi dengan banyaknya ke-lompoknya. [Lisanul Arab 11: 236-237,
dan Tartibul Qamus 2: 152].
SIFAT-SIFAT DAJJAL DAN HADITS-HADITS YANG BERKENAAN DENGANNYA
Dajjal
adalah seorang laki-laki dari anak Adam yang memiliki sejumlah sifat
sebagaimana dalam beberapa hadits agar manusia mengetahuinya dan
berhati-hati terhadapnya, sehingga apabila kelak ia muncul maka
orang-orang mukmin dapat me-ngenalnya serta tidak terfitnah olehnya.
Sifat-sifat
inilah yang membedakannya dari manusia lainnya sehingga tidak tertipu
olehnya kecuali orang yang jahil yang bakal celaka. Kita memohon
keselamatan kepada Allah.
DI ANTARA SIFAT-SIFAT DAJJAL
Dia
adalah seorang muda yang berkulit merah, pendek, berambut keriting,
dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, dan
matanya ini tidak menonjol keluar juga tidak tenggelam, seolah-oleh buah
anggur yang masak (tak bercahaya) dan matanya sebelah kiri ditumbuhi
daging yang tebal pada sudutnya. Di antara kedua matanya terdapat
tulisan huruf kaf, fa', ra' secara terpisah, atau tulisan "kafir" secara
bersambung / berangkai, yang dapat dibaca oleh setiap muslim yang bisa
menulis maupun yang tidak bisa menulis. Dan di antara tandanya lagi
ialah mandul, tidak punya anak.
Berikut ini beberapa hadits shahih yang menyebutkan ciri-ciri tersebut, yang juga merupakan dalil akan munculnya Dajjal:
[1]. Dari Umar Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya
: Ketika saya sedang tidur, saya bermimpi melakukan thawaf di
Baitullah.... " Lalu beliau mengatakan bahwa beliau melihat Isa Ibnu
Maryam 'alaihissalam, kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan
ciri-cirinya dengan sabdanya: "Dia itu seorang laki-laki yang gemuk,
berkulit merah, berambut keriting, matanya buta sebelah, dan matanya itu
seperti buah anggur yang masak' (tak bersinar). " Para sahabat
berkata, "Dajjal ini lebih menyerupai Ibnu Qathn [1] , seorang
laki-laki dari Khuza'ah." [Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, Bab
Dzikrid.Dajjal 13: 90: Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Dzikril Masih
Ibni Maryam 'alaihissalam wal-Masihid Dajjal 2: 237].
[2]. Dari
Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah menyebut-nyebut Dajjal di hadapan orang banyak, lalu
beliau bersabda:
"Artinya : Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak
buta sebelah matanya. Ketahuilah. sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal itu
buta.sebelah matanya yang kanan, seakan-akan matanya itu buah anggur
yang tersembul. " [Shahih Bukhari, Kitabul Fitan. Bab Dzikrid Dajjal
13: 90; dan Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asy-rothis Sa'ah, Bab
Dzikrid Dajjal 18: 59].
[3]. Dalam hadits An-Nawwas bin Sam'an
Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah saw bersabda dalam menyifati Dajjal,
bahwa dia adalah seorang muda yang berambut sangat keriting (kribo),
sebelah matanya tak bercahaya, mirip dengan Abdul 'Uzza bin Qathan.
[Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal
18: 65].
[4]. Menurut hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin
Ash-Shamit Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
"Artinya : Sesungguhnya Masih Dajjal itu seorang
lelaki yang pendek dan gemuk, berambut kribo, buta sebelah matanya, dan
matanya itu tidak menonjol serta tidak tenggelam. Jika ia memanipulasi
kamu, maka ketahuilah bahwa Rabbmu tidak buta sebelah matanya." [Aunul
Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud 11: 443. Hadits ini derajatnya shahih.
Periksa: Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 2: 317-318, hadits nomor 2455].
[5]. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya
: Adapun Masih kesesatan itu adalah buta sebelah matanya. Lebar
jidatnya, bidang dadanya bagian atas dan bengkok " [Musnad Imam Ahmad
15: 28-30 dengan tahqiq dan syarah Ahmad Syakir. Dia berkata, "Isnadnva
shahih. " hadits ini juga dihasankan oleh Ibnu Katsir. Periksa:
An-Nihayah Fil Fitan wai Malahim 1: 130 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini].
[6]. Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya
: Dajjal itu buta matanya sebelah kiri dan lebat rambutnya. " [Shahih
Muslim. Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18:
60-61].
[7]. Dalam hadits Anas Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya
: Dan di antara kedua matanya termaktub tulisan "kafir" [Shahih
Bukhari, Kitabul Fitan, Bab Dzikrid Dajjal 13: 91; dan Shahih Muslim,
Kitabul Fitan wa Asyrothus Sa'ah, Bab sa'ah, bab Dzikrid Dajjal 18: 59].
Dan dalam satu riwayat disebutkan:
"Kemudian beliau mengejanya –kaf fa ra- yang dapat dibaca oleh setiap muslim. " [Shahih Muslim 18: 59].
Dan dalam satu riwayat lagi dari Hudzaifah:
"Dapat dibaca oleh setiap orang mukmin, baik ia tahu tulis baca maupun tidak. " [Shahih Muslim 18: 61].
Tulisan
ini (yang ada di antara kedua mata Dajjal) adalah hakiki, sesuai
dengan lahirnya, dan tidak sukar untuk diketahui oleh sebagian orang
(yang muslim) dan tidak diketahui oleh sebagian orang lagi (yakni orang
kafir) [2] bahkan orang muslim yang buta huruf pun dapat membacanya.
Hal ini disebabkan kemampuan memandang itu diciptakan oleh Allah bagi
hamba-Nya bagaimana dan kapan saja ia berkehendak. Tulisan ini dapat
diketahui oleh mukmin dengan pandangan matanya, meskipun dia tidak
kenal tulis- menulis, dan tidak dapat diketahui oleh kafir sekalipun
dia tahu baca tulis. sebagaimana halnya orang mukmin dapat mengetahui
bukti-bukti kekuasaan Allah dengan pandangan matanya sedangkan orang
kafir tidak mengetahuinya. Maka Allah menciptakan pengetahuan bagi
orang mukmin tanpa mengalami proses belajar mengajar. sebab pada zaman
itu memang terjadi hal-hal yang luar biasa. [Fathul-Bari 13: 100].
Imam
Nawawi berkata, "Pendapat yang dipegang oleh para muhaqiq ialah bahwa
tulisan ini nampak secara lahir dan hakiki (sebenamya) sebagai suatu
tanda dan alamat yang diciptakan oleh Allah di antara sejumlah alamat
atau tanda-tanda yang menunjukkan dengan qath'i akan kekafiran,
kebohongan, dan kebatilannya (Dajjal). Dan tanda-tanda ini dinampakkan
oleh Allah kepada setiap orang muslim yang tahu tulis baca maupun yang
tidak tahu tulis baca, dan disembunyikannya untuk orang yang
dikehendaki-Nya akan celaka dan terfitnah. Dan hal ini tidak dapat
dihalangi sama sekali. " [Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 18: 60]
[8].
Dan di antara sifat-sifatnya (ciri-cirinya) lagi ialah seperti yang
disebutkan dalam hadits Fathimah binti Qais ra mengenai kisah Al-Jasasah
yang di dalam kisah (riwayat) itu Tamim Ad-Dari ra berkata. ".... Lain
kami berangkat dengan segera sehingga ketika kami sampai di biara
tiba-tiba di sana ada seorang yang sangat besar (hebat) dan diikat
sangat erat...." [Shahih Muslim. Kitabul Fitan wa Asy-rothis Sa'ah, Bab
Qishshotil Jasasah 18: 81].
[9]. Dalam hadits Imron bin Husein Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Artinya
: Semenjak diciptakannya Adam hingga datangnya hari kiamat tidak ada
makhluk yang lebih besar[3] daripada Dajjal. " [Shahih Muslim 18:
86-87].
[10]. Dajjal tidak punya keturunan, sebagaimana
diriwayatkan dalam hadits Abi Sa'ad Al-Khudri ra dalam kisahnya bersama
Ibnu Shayyad. Kata Ibnu Shayyad kepada Abu Sa'id, "Saya bertemu orang
banyak dan mereka mengira saya ini Dajjal. Bukankah Anda pernah
mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Dajjal tidak punya anak
(keturunan)?" Abu Sa'id menjawab, "Betul" Ibnu Shayyad berkata lagi,"
Padahal saya punya anak...." [Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis
Sa'ah, Bab Dzikri Ibnu Shayyad 18: 50].
Perlu diperhatikan bahwa
dalam riwayat-riwayat di muka disebutkan bahwa Dajjal itu buta matanya
yang sebelah kanan. sedangkan pada riwayat yang lain disebutkan bahwa
matanya yang butanya adalah sebelah kiri. padahal semua riwayat itu
shahih ini merupakan suatu kemusykilan. Ibnu Hajjar berpendapat bahwa
hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
yang menyifati Dajjal buta matanya yang sebelah kanan adalah lebih kuat
daripada riwayat Muslim yang mengatakan bahwa yang buta adalah matanya
sebelah kiri, sebab hadits yang disepakati shahihnya oleh Bukhari dan
Muslim Iebih kuat daripada lainnya. [Fathul-Bari 13: 97]
Al-Qadhi'
Iyadh berpendapat bahwa kedua belah mata Dajjal itu cacat. sebab semua
riwayatnya shahih. Yang satu tidak bercahaya (ath-thafi'ah, dengan
memakai huruf hamzah) yakni buta, dan ini untuk mata yang sebelah kanan
sebagaimana. disebutkan dalam hadits Ibnu Umar. Dan matanya yang
sebelah kiri ditumbuhi oleh daging pada sudutnya yang dapat menutupi
sebagian atau seluruh lensanya (ath-thafiyah) dengan menggunakan huruf
ya'), dan ini yang dimaksud dengan buta matanya sebelah kiri. Jadi
masing-masing mata Dajjal itu cacat. yang satu tidak dapat melihat sama
sekali dan satunya cacat dengan ditumbuhi daging. Imam Nawawi
mengomentari jalan jama' (kompromi) seperti yang dikemukakan Qadhi
'iyadh itu sangat bagus (Syarah Muslim 2: 235) dan dikuatkan pula oleh
Abu Abdillah Al-Qurthubi [At-Tadzkirah: 663].
APAKAH DAJJAL MASIH HIDUP ?
Apakah
Dajjal itu sudah ada pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam?
Sebelum menjawab kedua pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita harus
mengetahui keadaan Ibnu Shayyad, apakah dia itu Dajjal atau bukan?
Kalau Dajjal itu bukan Ibnu Shayyad, maka apakah dia telah ada sebelum ke-munculannya dengan membawa fitnah?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah kita mengenal Ibnu Shayyad terlebih dahulu.
IBNU SHAYYAD
Namanya:
Shafi, dan ada yang mengatakan Abdullah bin Shayyad atau Shaid. la
berasal dari kalangan Yahudi Madinah, ada yang mengatakan dari kalangan
Anshar, dan dia masih kecil ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
tiba di Madinah.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dia adalah Aslam,
dan anaknya, "Amaroh, salah seorang pemuka tabi'in. Imam Malik dan
lain-lainnya meriwayatkan hadits darinya. [An-Nihaya Fil Fitan 1: 128
dengan tahqiq DR. Thaha Zaini].
Adz-Dzahabi mengemukakan
biodatanya dalam kitab beliau Asmaush-Shaha-bah. Beliau berkata,
"Abdullah bin Shayyad dicatat oleh Ibnu Syahin [1] Beliau berkata, "Dia
adalah Ibnu Shaaid. Ayahnya seorang Yahudi, lalu Abdullah dilahirkan
dalam keadaan buta sebelah matanya dan sudah berkhitan. Dialah yang
dikatakan orang sebagai Dajjal, lalu dia masuk Islam. Dan dia adalah
orang tabi'i [2] [Tajridu Asmaish-Shahabah 1:319 nomor 3366 karya Al-
Hafizh Adz-Dzahabi, terbitan Darul Ma'rifah. Beirut"]
Perkataan
Adz-Dzahabi itu kemudian di kutip pula oleh Al-Hafizh Ibnu beliau
berkata. "Dia adalah orang yang punya putera "Amaroh bin Abdullah bin
Shayyad, termasuk orang pilihan kaum muslimin dan sahabat Sa'id bin Al-
Musayyab. Imam Malik dan lain-lainnya meriwayatkan hadits dari beliau."
Kemudian
Ibnu Hajar menyebutkan sejumlah hadits tentang Ibnu Shayyad
sebagaimana akan kami kutip di sini lalu beliau berkata. "Secara garis
besar. tidak artinya menyebut Ibnu Shayyad dalam kelompok sahabat.
Sebab. kalau dia itu Dajjal, maka sudah barang tentu dia bukan sahabat,
karena dia mati kafir; dan kalau Ibnu shayyad itu bukan Dajjal, maka
ketika bertemu Nabi saw dia belum masuk Islam." [Al-lshobah Fi
Tamyizish-Shahabah, pada bagian keempat, dalam pembahasan tentang orang
yang bernama "Abdullah", juz 3, halaman 133 karya Al-Hafizh Ibnu Hajar
Al-Asqalani, terbitan As-Sa'adah, Mesir, cetakan pertama. 1328 H.]
Tetapi
jika ia masuk Islam setelah itu. maka ia adalah seorang Tabi'i yang
pernah melihat Nabi saw sebagaimana dikatakan oleh Adz.-Dzahabi.
Dan
di dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar mengidentifikasi
Amarah Ibnu Shayyad dengan mengatakan, "Amaroh bin Abdullah bin Shayyad
Al- Anshari Abu Ayyub Al-Madani, meriwayatkan hadits dari Jabir bin
Abdullah dan Sa'id bin Al-Musayyab serta Atha' bin Yasar. sedang
Adh-Dhahhak bin Utsman dan Imam Malik serta lain-lainnya meriwayatkan
hadits dari Amaroj.
Ibnu Ma'in dan Nasai berkata. "Dia seorang
kepercayaan." Abu Hatim berkata, " Dia seorang yang shalih haditsnya."
Ibnu Sa'ad berkata. "Seorang kepercayaan. dan sedikit hadits yang
diriwayatkannya. Dan Malik bin Anas tidak mengunggulkan seorang pun
atas dia."
Mereka mengatakan, "Kami adalah putera-putera
Usyaihab bin Najjar, lalu mereka terkenal dengan Bani Najjar. Mereka
sekarang menjadi kawan setia (mengikat janji setia) dengan Bani Malik
bin Najjar, dan tidak diketahui dari keturunan siapa mereka ini."
[Tahdzibut-Tahdzib 7: 418, nomor 681]
IHWAL IBNU SHAYYAD
Ibnu
Shayyad adalah seorang pembohong besar dan kadang-kadang melakukan
praktek tukang tenung, maka adakalanya benar dan adakalanya dusta. Maka
tersiarlah kabar di kalangan manusia bahwa dia adalah Dajjal,
sebagaimana akan disebutkan dalam pengujian Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam terhadapnya.
PENGUJIAN NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM TERHADAP IBNU SHAYYAD
Ketika
tersiar di kalangan orang banyak perihal Ibnu Shayyad sebagai Dajjal,
maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin mengetahuinya secara
jelas, lalu beliau pergi menemui Ibnu Shayyad dengan menyamar (tidak
menampakkan identitasnya) sehingga Ibnu Shayyad tidak mengetahuinya,
dengan harapan beliau dapat mendengar sesuatu darinya, kemudian beliau
menghadapkan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mengungkap hakikatnya.
Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu
bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam suatu rombongan untuk menemui Ibnu Shayyad, hingga mereka
berhasil menemuinya ketika ia sedang bermain-main dengan anak-anak
kecil di sebelah bangunan yang tinggi seperti benteng yang ada di
antara lembah kaum Anshar. Ketika itu Ibnu Shayyad sudah hampir dewasa,
dan dia tidak merasa akan kedatangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam sehingga beliau memukulnya dengan tangan beliau seraya bertanya.
"Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul Allah?" Lalu Ibnu
Shayyad melihat kepada beliau lantas berkata, "Saya bersaksi bahwa
engkau adalah Rasul bagi orang-orang ummi (buta hurut)."
Selanjutnya Ibnu Shayyad berkata, "Apakah engkau bersaksi bahwa saya utusan Allah?"
Nabi menjawab, "Aku beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Bagaimana pandanganmu?"
Ibnu Shayyad berkata, "Telah datang kepadaku seorang yang jujur dan seorang pendusta."
Nabi bersabda, "Pikiranmu kacau-balau. Apakah saya menyembunyikan sesuatu terhadapmu?"
Ibnu Shayyad menjawab, "Asap."
Nabi bersabda, "Duduklah, sesungguhnya engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu."
Umar berkata, "Biarkanlah saya pukul kuduknya, wahai Rasulullah."
Nabi
bersabda, "Jika ia menyindir, maka engkau tidak dapat menguasainya.
Tapi jika ia tidak menyindir, maka tidak ada kebaikan untukmu dalam
membunuhnya." [Shahih Bukhari. Kitabul Janaiz, Bab Idza As lama
Ash-Shabiyyu fa maata Hal Yusholla 'alaihi wa Hal Yu'rodhu 'Ala
Ash-Shabiyyi Al-Islamu 3: 217)]
Dan dalam satu riwayat disebutkan
bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Ibnu Shayyad,
"Apakah yang engkau lihat?" Dia menjawab, "Saya melihat singgasana di
atas air." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Engkau
melihat singgasana iblis di laut, dan apa lagi yang engkau lihat?" Dia
menjawab, "Saya melihat dua orang yang jujur dan seorang pendusta, atau
dua orang pendusta dan seorang yang jujur." Kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pikirannya sedang kacau-balau,
biarkanlah dia!" [Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab
Dzikir Ibni Shayyad 18: 49-50]
Ibnu Umar menceritakan dalam
versi lain, "Setelah itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersama Ubay bin Ka'ab pergi ke kebun kurma yang di sana terdapat Ibnu
Shayyad. Beliau berjalan pelan-pelan karena ingin mendengar sesuatu
dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad mengetahui beliau, lalu Nabi saw
melihatnya sedang berbaring di atas sehelai kain miliknya yang ada
tandanya. Lalu ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah saw yang sedang
berlindung di balik batang pohon kurma, lantas ia berkata kepada Ibnu
Shayyad, "Wahai Shafi -nama ibu Ibnu Shayyad yang sebenarnya- ini
adalah Muhammad saw!" Lalu Ibnu Shayyad lari. Kemudian Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya
akan nampak jelas masalahnya."[Shahih Bukhari 3: 218]
Abu Dzar
Radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah mengutus saya untuk menemui ibunya. Beliau bersabda,
"Tanyakanlah kepadanya berapa lama ia mengandungnya." Lalu saya datang
kepadanya dan menanyakannya, kemudian ia menjawab, "Aku mengandungnya
selama dua belas bulan." Abu Dzar berkata, "Kemudian beliau menyuruh
saya untuk menanyakan bagaimana ia berteriak (menangis) sewaktu
dilahirkan. Lalu saya kembali lagi kepadanya dan menanyakannya.
Kemudian ia menjawab, "Dia menangis seperti menangisnya bayi yang sudah
berusia satu bulan." Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda kepadanya, "Sesungguhnya saya menyembunyikan sesuatu
kepadamu." Dia berkata, "Engkau menyembunyikan bagian depan hidung dan
mulut (cingur) kambing serta asap kepadaku." Kata Abu Dzar, "Ia hendak
mengucapkan ad-dukhon tetapi tidak dapat, lalu ia mengungkapkan
ad-dukh, ad-dukh." [Musnad Ahmnad Ahmad 5: 148. Ibnu Hajar berkata,
"Shahih."]
Maka pengujian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadapnya dengan "ad-dukhon" adalah untuk mengetahui hakikat urusannya.
Dan yang dimaksud dengan "ad-dukhon" di sini ialah firman Allah:
"Artinya : Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata" [Ad-Dukhon: 10]
Dan
di dalam riwayat Ibnu Umar seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad: "Aku
menyembunyikan sesuatu terhadapmu." Dan beliau menyembunyikan apa yang
terkandung dalam ayat:
"Artinya : ... hari ketika langit membawa
kabut yung terang" [Musnad Ahmad 9: 139. hadits nomor 6360 dengan
tahqiq Ahmad Syakir. Beliau berkata, "Isnadnya shahih."]
Ibnu
Katsir berkata. "Ibnu Shayyad dapat mengungkapkannya lewat jalan para
dukun dengan lisan jin, dan mereka memotong ungkapan itu. Karena itu ia
berkata. Ad-dukh, yakni ad-dukhon. Ketika itu tahulah Rasulullah saw
materinya bahwa itu dari syetan. Lalu beliau bersabda, "Duduklah, engkau
tidak akan dapat melampaui kedudukanmu." [Tafsir Ibnu Katsir 7: 234]
KEMATIAN IBNU SHAYYAD
Dari
Jabir Radiyallahu anhu ia berkata, "Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada
musim panas." ['Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi Daud 11: 476]
Ibnu
Hajar mengesahkan riwayat di atas dan melemahkan pendapat orang yang
mengatakan bahwa Ibnu Shayyad meninggal dunia di Madinah dan mereka
membuka wajahnya serta menyalati jenazahnya. [Fathul-Bari 13: 328]
APAKAH IBNU SHAYYAD ITU DAJJAL YANG BESAR ITU ?
Dalam
pembicaraan di muka mengenai hal ikhwal Ibnu Shayyad dan pengujian
Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam terhadapnya, beliau bersikap tawaqquf
(berdiam diri) mengenai masalah Ibnu Shayyad, karena beliau tidak
mendapatkan wahyu yang menerangkan apakah Ibnu Shayyad itu Dajjal atau
bukan.
Umar Radiyallahu anhu pernah bersumpah di sisi Nabi
Shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan
beliau tidak mengingkarinya.
Sebagian sahabat juga berpendapat seperti pendapat Umar sebagaimana diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.
Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir [1] dia
berkata, "Saya melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah
bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Saya bertanya (kepadanya), Anda
bersumpah dengan nama Allah?" Dia menjawab, "Saya mendengar Umar
bersumpah begitu di sisi Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam. tetapi
beliau tidak mengingkarinya." [Shahih Bukhari, Kitab Al-l'tisham
bil-Kitab Was sunnah, Bab Ban Ra-aa Tarkan Nakir Min an- Nabiyyi saw
Hujjatan Laa min Ghairi Rasul 13: 223; dan. Shahih Muslim, Kitabul Fitan
wa Asyrothis Sa'ah. Bab Dzikri Ibni Shayyad 18: 52-53]
Dari
Zaid bin Wahab [2] ia berkata, "Abu Dzar berkata, "Sungguh, jika saya
bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shaid adalah Dajjal lebih saya sukai
daripada bersumpah satu kali bahwa dia bukan Dajjal." [Hadits Riwayat
Imam Ahmad]
Dari Nafi, ia berkata, "Ibnu Umar pernah berkata,
"Demi Allah, saya tidak ragu-ragu bahwa Al-Masih Ad-Dajjal adalah Ibnu
Shayyad." [Sunan Abi Daud, Ibnu Hajar berkata, "Sanadnya shahih."
Fathul-Bari 13: 325]