Every ballers in the Nation have fought for the honors this season.
Every ballers in the Nation have shown to us their best talents and
skills. Every ballers in the Nation have fought their way to be selected
as the National Allstars. Every ballers in the Nation have shown what
the got to all the Judges.
And now….the best 8 ballers amongst them have been chosen to be the LA Lights Streetball National Allstars 2012.
6 dari 8 Allstar Nasional 2012 ini adalah Allstar Nasional 2011 yang
kembali terpilih lagi di tahun 2012 ini. Mereka benar-benar menunjukkan
their best talents in every cities, dan berhasil mempertahankan tahta
kerajaan mereka.
Metrotvnews.com, Turin: Juventus berhasil
melenggang ke Final Coppa Italia musim ini setelah mengandaskan
perlawanan AC Milan di Juventus Stadium, Rabu (21/3) dini hari. Dalam
pertandingan tersebut, Juventus hanya bermain seri 2-2, namun menang
dengan agregat 4-3.
Meski sebagai tamu, Rossoneri melakukan inisiatif serangan ketika laga
baru dimulai. Terlebih, anak asuh Massimiliano Allegri harus mengejar
keunggulan Juventus (2-1) pada pertemuan pertama di San Siro.
Milan sempat terancam bahaya ketika Arturo Vidal meminta penalti kepada
wasit di menit keempat karena mengklaim dirinya dijatuhkan oleh Thiago
Silva. Namun, wasit tidak melihat adanya pelanggaran sehingga laga pun
dilanjutkan.
Awak Rossoneri terdiam ketika Alessandro Del Piero membawa Bianconeri
unggul di menit 34. Memanfaatkan umpan tarik Stephan Lichsteiner, yang
sebelumnya mendapat terobosan bola dari Pirlo di sisi kiri, Del Piero
menceploskan bola ke gawang Marco Amelia untuk membawa tim tuan rumah
unggul 1-0 (ag. 3-1).
Dua menit berselang, skuad besutan Antonio Conte bahkan nyaris
menggandakan keunggulan lewat Mirko Vucinic. Namun, kali ini Milan
beruntung karena Amelia masih mampu menepis serangan tersebut.
Vucinic kembali melakukan pergerakan berbahaya di dalam kotak penalti
ketika pertandingan memasuki masa injury time. Umpan striker Montenegro
dari sisi kiri kotak penalti sebenarnya sempat disambut sundulan kepala
Vidal, namun Del Piero yang berada dalam posisi bebas tidak mampu
menjangkau bola.
Alhasil, skor 1-0 untuk Juventus tidak berubah hingga babak pertama usai.
Meski tertinggal agregat 3-1, para punggawa Rossoneri belum putus
harapan. Apalagi, mereka berhasil memperkecil ketinggalan di awal babak
kedua melalui Djamel Mesbah.
Berawal dari umpan terukur Philippe Mexes dari tengah lapangan, Mesbah
segera menyambut bola dengan kepalanya melewati penjagaan Marco Storari.
Gol Mesbah tampaknya merupakan hal yang tepat untuk menyulut semangat
pemain Milan. Armada Rossoneri bermain mati-matian untuk menyamakan
agregat dengan kubu Bianconeri.
Pendukung Il Diavolo pun bersorak penuh kegembiraan ketika Maxi Lopez,
yang masuk menggantikan Ibra di awal babak kedua, mencetak gol kedua
untuk Milan. Usai melewati penjagaan dua pemain Juve, Lopez menjebol
gawang Storari setelah tendangan kerasnya ke pojok kiri gawang gagal
diantisipasi kiper Italia.
Sukses menyamakan agregat, Milan pun memaksa Bianconeri melakoni perpanjangan waktu 2x15 menit.
Bianconeri tampil mengancam di babak pertama perpanjangan waktu, di mana
Vucinic nyaris menjebol gawang Amelia lewat tendangan kerasnya.
Beruntung, bola masih bisa ditepis oleh Amelia. Tendangan Claudio
Marchisio yang menyambut bola rebound pun belum bisa menemui sasaran
karena masih melebar.
Akan tetapi, memasuki menit 96, Vucinic tampil sebagai pahlawan dan
berhasil membawa Juve menyamakan skor 2-2 sekaligus kembali unggul
dengan agregat 4-3. Tendangan keras Vucinic dari dalam kotak penalti
bersarang di pojok kiri gawang tanpa berhasil dihalau Amelia.
Milan kembali melakukan rentetan serangan demi mengejar defisit gol.
Namun, upaya mereka masih bisa digagalkan lini pertahanan Juve. Termasuk
peluang Lopez yang berhasil melakukan penetrasi ke kotak penalti,
sebelum dihadang tiga punggawa Juve secara bergantian.
Juventus akhirnya berhak melaju ke babak final Coppa Italia setelah
Milan tidak berhasil mencetak gol tambahan hingga perpanjangan waktu
berakhir. Pasukan Nyonya Tua akan menghadapi pemenang laga Siena kontra
Napoli. (Goal/Wrt3)
Juventus ke Final, Del Piero Bangga
Metrotvnews.com, Turin: Juventus melangkah
ke babak final Coppa Italia usai mengakhiri leg kedua semi-final kontra
AC Milan dengan skor 2-2. Bianconeri unggul dengan agregat 4-3.
Alessandro Del Piero mencetak gol pertama untuk Juve sebelum Milan
membalas lewat Djamel Mesbah dan Maxi Lopez.
Tendangan jarak jauh Mirko Vucinic di masa perpanjangan waktu memastikan
anak-anak asuh Antonio Conte melangkah ke babak final. Mereka akan
menghadapi pemenang laga antara Siena dan Napoli.
Del Piero pun mengungkapkan kebanggaannya atas hasil positif tersebut,
apalagi ini merupakan final pertama Juventus di Coppa Italia sejak 2004
lalu.
“Ini sangat berarti bagi kami. Saya sangat bangga [bisa mencapai final].
Sangat menyenangkan bisa bermain malam ini, dan saya pikir anda semua
melihat kebahagiaan saya usai mencetak gol,” seru Del Piero.
Ditanya mengenai peluang kedua tim merebut titel Scudetto, striker 37
tahun hanya berkomentar pendek. “Kini kami akan bertarung di kedua
kompetisi dan akan terus menekan Milan hingga saat-saat terakhir,” jelas
Del Pierro. (goal/DOR)
Roma Terus Dekati Bek Corinthians
Metrotvnews.com, Roma: AS Roma melanjutkan
perburuannya untuk bisa mendapatkan talenta muda terbaik yang ada di
jagat sepakbola. Mengutip laporan Tribal Football, Giallorossi kini
terus melanjutkan pembicaraan dengan pihak Corinthians untuk bisa
memboyong fullback muda Dodo.
Dalam laporan itu dikabarkan pemain berusia 19 tahun itu sekarang telah
mengantungi paspor Uni Eropa. Sementara kontraknya bersama klub Brasil
itu akan segera berakhir pada Juni mendatang.
Sayangnya, sejauh ini masih belum ada laporan detail terkait dengan
usaha dari Roma ini. Namun diyakini klub raksasa asal Italia ini akan
berupaya membawa Dodo pada bursa transfer musim mendatang. (goal/DOR)
Friday, March 16, 2012
Manchester City Tersingkir dari Liga Eropa
Manchester
City menyusul Manchester United tersingkir dari kompetisi 16 besar Liga
Eropa, setelah Kamis memenangi laga atas Sporting Lisbon tapi kalah
karena lawannya unggul dalam gol tandang. Kendati pasukan Roberto
Mancini itu memang 3-2 pada pertandingan Kamis malam, Sporting maju
karena unggul gol tandang pada laga di Eastland, hanya beberapa jam
setelah United pun tersingkir di Spanyol setelah bertanding lawan
Atheltic Bilbao.
Gol babak pertama yang diciptakan Matias
Fernandez dan Ricky van Wolfswinkel, kelihatannya sudah akan menghabisi
harapan City untuk membalikkan angka setelah mereka kandas pada laga leg
pertama. Tapi gol pada awal babak kedua yang dibuat Sergio Aguero
mengurangi rasa kekhawatiran mereka, kemudian Mario Balotelli
melancarkan tendangan penalti pada menit ke-74 sehingga harapan para
pendukung City kembali muncul.
Dengan membutuhkan empat gol agar
dapat lolos, Aguero akhirnya mencetak gol ketiga timnya pada menit
ke-82. Pada akhir permainan, penjaga gawang Joe Hart kelihatannya amat
cemas dengan umpan yang dilancarkan Nigel de Jong ke arah gawang, tetapi
Rui Patricio berhasil menahan laju bola.
Harapan City saat ini,
seperti juga United, adalah fokus pada laga Liga Utama dengan tidak
diganggu lagi persiapan pada kompetisi Eropa lainnya. "Saya kira
pertandingan babak pertama amat aneh," kata pelatih City, Mancini.
"Kami
membiarkan mereka membuka ruang sehingga leluasa melancarkan serangan
balik. Kami pun bersaha melakukan serangan balik tetapi tidak
melakukannya dengan baik, terutama pada babak pertama. Seharusnya kami
bisa menembus mereka dengan empat gol setelah membuat angka ketiga,"
katanya.
"Dalam pertandingan sepak bola, jangan pernah mengatakan
bila Anda mencetak dua gol dalam 20 menit. Saya kecewa karena mungkin
saya salah dan saya minta maaf kepada pendukung kami," katanya.
City,
setelah kalah melawan Sporting dan Swansea, kelihatannya sudah akan
kalah untuk ketiga kalinya dan keluar dari laga Liga Eropa ketika
pertandingan baru berlangsung 40 menit. Mempecundangi lawannya 1-0
minggu lalu pada laga leg pertama di Portugal, City menyaksikan pemain
depan Balotelli mencetak gol awal bagi Sporting pada menit ke-32 ketika
tendangannya dari garis kotak penalti menembus pertahanan mereka.
Turnamen Piala Dunia
selalu memunculkan pemain-pemain hebat, tapi tidak semua pemain hebat
tersebut dapat menjadi legenda. Berikut ini adalah sepuluh pemain hebat
yang pantas disebut sebagai legenda sepakbola dan akan terus dikenang sepanjang masa.
1. Pele (Brasil) Pele pertama kali muncul di Piala Dunia pada tahun 1958 sebagai pemain muda berumur 17 tahun. Dia mencetak gol pertamanya di Piala Dunia ketika bermain melawan Wales di perempat-final, pertandingan keduanya di Piala Dunia. Saat usianya baru menginjak 17 tahun 239 hari, Pele dinobatkan sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Dunia. Kehebatan Pele semakin terlihat ketika mencetak hattrick di pertandingan semi final melawan Prancis. Sampai sekarang, Piala Dunia 1958 di Swedia dikenang sebagai awal karier sang legenda. Tak berlebihan rasanya jika FIFA sampai menjulukinya sebagai King of Football.
Pernah mencetak delapan gol dalam satu pertandingan pada tahun 1964, Pele juga mencatatkan diri sebagai pemain yang pernah enam kali mencetak lima gol dalam satu pertandingan, 30 kali quattrick, dan tak kurang dari 92 kali hattrick. Sepanjang kariernya, Pele membukukan 1.281 gol dalam 1.363 pertandingan.
2. Diego Armando Maradona (Argentina)
Rasanya tak ada satupun pemain sepakbola selain Maradona yang dipuja layaknya Tuhan. Bagi sebagian besarorang, Maradona merupakan pemain terhebat sepanjang masa dan bukannya Pele, yang mendapatkan gelar tersebut secara resmi oleh FIFA.
Walaupun hidupnya dipenuhi kontroversi, mulai dari gol Tangan Tuhan, kecanduan alkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang, hingga akhirnya harus diusir dari Piala Dunia 1994, Maradona selalu dipuja oleh penggemarnya. Piala Dunia Meksiko 1986 merupakan momen terbaiknya dengan beberapa momen yang tak mungkin terlupakan. Momen terbaiknya tentu saja ketika Maradona mendribel bola dari tengah lapangan melewati lima pemain Inggris sebelum akhirnya mencetak sebuah gol yang kelak disebut sebagai gol terbaik sepanjang masa.
Gol yang dicetak ketika melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986 tersebut begitu indah, dan momen itu adalah yang terbaik dalam kariernya yang membuatnya dianggap Tuhan oleh sebagian orang Argentina yang mendirikan Gereja Maradona.
Semua orang akan selalu mengingat kata-kata yang diucapkan sambil menangis oleh komentator Victor Hugo Morales ketika terjadi gol terindah sepanjang masa itu, “Gracias,
Dios. Por el futbol, por Maradona, por estas lagrimas.. (Terima kasih
Tuhan, untuk sepakbola, untuk Maradona, dan untuk airmata ini..)”